00. Teruntuk Tuhan

Harus bagaimana lagi aku bercerita?
Kalau bukan hanya kepada-Mu sang pencipta

Lalu, harus bagaimana lagi aku mencurahkan keluh kesah? Menangis di pojokan atau menangis di depan mereka? Ku rasa, ini tak memberi solusi. Yang ada mereka hanya mengasihani tanpa peduli.
Dan sungguh, aku tak menginginkan hal ini.

Lantas,
Harus bagaimana lagi aku melunturkan putus asa?

Aku (mungkin) sudah lelah merangkai kata

Ini hati yang sudah patah, yang tak akan pernah puas tuk mengungkapkan semua.

Jangan heran kalau aku merangkai kata, tahu kan apa yang ku rasa?



Dear God

Teruntuk Tuhan,
Yang Maha mendengar
Dengarkan suara hatiku Tuhan,
Ku mohon....
   Saat aku menangis,
   Aku hanya ingin diriku yang tahu
   Cukup Engkau yang mendengar jeritan
   hati ini
   Aku tak ingin berbagi,
   Sekalipun kepada mereka yang
   bersedia di curhati.
   Ah aku lupa, 
   Bukankah aku ini hanya sendiri?
Ha ha
Bukan maksud hati untuk menyindir,
Memang aku ini tak punya tempat untuk berbagi
Jikalaupun ada, aku tak ingin menyusahkan
Sekalipun kepada mereka yang ku sayang
Bukannya aku munafik
Tapi,
Bukankah ini realita kehidupan?
Realita yang sungguh menyesakkan
Saat hati tak mampu lagi memendam
Saat otak tak lagi mampu menampung beban
Seakan getaran bibir yang menjadi jawaban...
Jawaban atas kebingungan yang selama ini kurasa
Terkadang, aku iri Tuhan...
Aku iri kepada mereka yang dengan beruntungnya 
memiliki orang-orang yang mau mengerti keadaannya
Keluarga yang selalu membangga-banggakan kehadirannya
Jujur, 
Aku cemburu Tuhan
Susah untuk aku membuang rasa cemburu ini
Suka heran, kenapa mereka masih sibuk mencari perhatian.
Padahal,
Dengan terang-terangan mereka menyepelekan kehadiran orang-orang
yang sungguh peduli akan keadaannya
Terkadang aku kesal,
Ingin marah, 
Saat kenyataan tak bersahabat dengan ku,
Ingin rasanya aku lari dari kenyataan
Lari dari kesepian...
Aku tahu ini cobaan
Cobaan yang menuntut hati untuk mengikhlaskan
Kalau saja mereka tak mengungkit,
Pasti luka ini tak akan bangkit.
Bagai karang yang tahan dihantam ombak berkali-kali
Pasti akan hancur suatu hari
Begitu pula rasa yang tinggal di dalam hati
Akan terkuak seiring hari-hari yang ku lewati
Dan hanya dengan ini,
Aku mampu mengekspresikan diri
Menuliskan kisah yang kurasa pilu
Berharap Tuhan akan membalas semua itu
Semua yang menjadi kegelisahan di setiap malam ku
Semoga Tuhan selalu mengiringi langkahku
Langkah yang kutuju untuk membahagiakan kedua orang tuaku
Walau aku tak tahu takdirku
Aku yakin,
Tuhan akan memberi jalan untuk masa depanku.

Aamiin





Biarkan ku bercerita,