Aku yang bersalah, kamu yang mengalah
Aku yang mengalah karena kamu merasa tak bersalah?
Atau, kita sama-sama tak mau mengalah saja?
Kalau begitu, lantas sampai kapan kata maaf terucap?
Sampai salah satu diantara kita pergi dan kita menangisi penyesalan kita diatas nisan?
Baiklah,
Aku yang meminta maaf, kamu yang memaafkan
Aku yang mengakui kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulangi dan kamu, berjanji untuk menghapus setiap luka yang pernah kuberi
Dan kusadari,
Menghapus luka tak semudah mengatakan "iya, santai", "udah lupain"
Dan kumaklumi jika kamu masih tetap mengingat kejadian dimasa itu,
Ketika aku menyakitimu dengan kata-kataku
Setidaknya, kata maaf dariku adalah celah penyesalan dariku untukmu
Aku memang tak pandai merangkai kata dihadapanmu,
Sampai akhirnya aku menuliskan kata maafku perantara pesan singkat yang ku kirim untukmu
Maaf, untuk kesekian kalinya.
Maaf saat aku tak berkutip dihadapanmu
Aku malu,
Atas segala tindakan konyolku kala itu
Sebagai teman, pasti aku pernah membuatmu jengkel atas tindakanku,
Aku pernah tidak mendengarkan ketika kamu berbicara serius
Aku pernah membicarakanmu dibelakangmu sekalipun aku tak bermaksud begitu,
Dan maaf untuk kesekian kali aku mencoba menjadi teman yang lebih baik lagi,
Sekalipun aku selalu gagal,
Kuharap kamu tak bosan untuk terus mendidikku layaknya seorang adik bagimu
Maaf, untuk kalian yang pernah hadir pada sejarah hidupku
Aku berterima kasih atas kesediaanmu sudi menjadi temanku
Maaf, aku terlalu egois bahkan untuk kebaikanku sendiri yang kamu saja memikirkannya
Maaf, saat aku bertingkah konyol dan menjadikan malumu
Maaf, aku bukan pendengaf yang baik atas keluh kesahmu,
Dan tak bisa memberimu nasihat atas segala keterpurukanmu kala itu
Maaf, aku belum bisa mengingatkanmu jika kamu melakukan kesalahan karena kurang fahamnya aku tentang agama,
Maaf, untuk semua kesalahanku yang kuperbuat
Sedang kamu memberiku kebaikan
Maaf, atas diamku selama ini
Maaf, atas gengsiku yang terlalu kufikirkan sampai kata maaf baru terucapkan
.....
Untukmu, semoga kebaikan terlimpah padamu,
Pada hidup dan wafatmu
Karena aku tahu kita disini sementara dan akan berpulang pada saatnya
Jika aku berpulang lebih dahulu,
Maka mohonkan ampun untukku
Dan jika kamu berpulang lebih dahulu,
Aku akan berdoa pula untukmu dan akan mengingat kebaikanmu
Ijinkan aku mengubah diriku lebih baik,
Dengan kata maafmu
Baiklah. Ini belum pantas disebut puisi. Lebih kearah rangkaian diksi-diksi
Aku yang mengalah karena kamu merasa tak bersalah?
Atau, kita sama-sama tak mau mengalah saja?
Kalau begitu, lantas sampai kapan kata maaf terucap?
Sampai salah satu diantara kita pergi dan kita menangisi penyesalan kita diatas nisan?
Baiklah,
Aku yang meminta maaf, kamu yang memaafkan
Aku yang mengakui kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulangi dan kamu, berjanji untuk menghapus setiap luka yang pernah kuberi
Dan kusadari,
Menghapus luka tak semudah mengatakan "iya, santai", "udah lupain"
Dan kumaklumi jika kamu masih tetap mengingat kejadian dimasa itu,
Ketika aku menyakitimu dengan kata-kataku
Setidaknya, kata maaf dariku adalah celah penyesalan dariku untukmu
Aku memang tak pandai merangkai kata dihadapanmu,
Sampai akhirnya aku menuliskan kata maafku perantara pesan singkat yang ku kirim untukmu
Maaf, untuk kesekian kalinya.
Maaf saat aku tak berkutip dihadapanmu
Aku malu,
Atas segala tindakan konyolku kala itu
Sebagai teman, pasti aku pernah membuatmu jengkel atas tindakanku,
Aku pernah tidak mendengarkan ketika kamu berbicara serius
Aku pernah membicarakanmu dibelakangmu sekalipun aku tak bermaksud begitu,
Dan maaf untuk kesekian kali aku mencoba menjadi teman yang lebih baik lagi,
Sekalipun aku selalu gagal,
Kuharap kamu tak bosan untuk terus mendidikku layaknya seorang adik bagimu
Maaf, untuk kalian yang pernah hadir pada sejarah hidupku
Aku berterima kasih atas kesediaanmu sudi menjadi temanku
Maaf, aku terlalu egois bahkan untuk kebaikanku sendiri yang kamu saja memikirkannya
Maaf, saat aku bertingkah konyol dan menjadikan malumu
Maaf, aku bukan pendengaf yang baik atas keluh kesahmu,
Dan tak bisa memberimu nasihat atas segala keterpurukanmu kala itu
Maaf, aku belum bisa mengingatkanmu jika kamu melakukan kesalahan karena kurang fahamnya aku tentang agama,
Maaf, untuk semua kesalahanku yang kuperbuat
Sedang kamu memberiku kebaikan
Maaf, atas diamku selama ini
Maaf, atas gengsiku yang terlalu kufikirkan sampai kata maaf baru terucapkan
.....
Untukmu, semoga kebaikan terlimpah padamu,
Pada hidup dan wafatmu
Karena aku tahu kita disini sementara dan akan berpulang pada saatnya
Jika aku berpulang lebih dahulu,
Maka mohonkan ampun untukku
Dan jika kamu berpulang lebih dahulu,
Aku akan berdoa pula untukmu dan akan mengingat kebaikanmu
Ijinkan aku mengubah diriku lebih baik,
Dengan kata maafmu
Baiklah. Ini belum pantas disebut puisi. Lebih kearah rangkaian diksi-diksi
Salam hangat,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar