SURAT CINTA UNTUK SAINS FOUR CREW


Mipa 4 itu?

 
Terserah buat kalian mau memahami tulisan ku ini bagaimana. Ya, anggap saja ini surat cinta yang ku tulis untuk kalian. Harusnya aku menulis ini semua di selembar kertas lalu di bungkus amplop cokelat. Ah tapi kuurungkan niatku, kenapa? Karena aku tahu kertas itu hanya akan bertahan beberapa waktu saja. Dan pasti akan usang dimakan waktu, belum lagi nanti kalau aku tulis di kertas semacam surat haruskah aku menulis 39 lembar? Konyol bukan. Belum lagi  tulisanku yang akan luntur atau malah sulit dibaca . Jadi, aku memutuskan menulis ini di blog ku, karena aku tahu tulisan itu abadi. Sekalipun di tinggal pergi sang empunya tulisan. Jadi aku harap saat kita pisah kita masih bisa bernostalgia dg masa muda kita di blog ku ini. Tenang, aku tidak akan lagi mengganti alamat blog ku untuk kedua kalinya. Asal kalian pembaca jangan usil mengurusi kisah yang kutuang dalam tulisan ku yang lainnya. Ingat! Jangan usil.

Dan aku sarankan kalau mau baca ini plis dengerin lagu "sampai jumpa'' -- by: Endank Soekamti atau "Masa SMA" 
πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

 Aku berdiri di depan sebuah bangunan kokoh yang pintunya terpasang sebuah papan bertuliskan X MIPA4, XI MIPA4, XII MIPA4.

 Bibirku tertarik membentuk seulas senyum. Ada angan, kenangan, kejutan, harapan dan impian yang sempat terangkai dan terbentuk di kelas ini. Tentang aku bersama ke-39 temanku, yang setiap harinya bertemu, bercanda & tertawa sekencang-kencangnya, berlarian dalam kelas tanpa jelas maksudnya, bertingkah abnormal & gila, jajan ke kantin mb Marni dan buk Les, sholat duha dan dzuhur di Mushola, pergi ke toilet hanya untuk menghindar dari pelajaran yang membosankan dan berbagi cerita tentang apapun mulai dari pertengkaran PK di kosan, tetangga yang berebut hak waris, tetangga yang bertengkar hebat karena ocehan tetangga lain pun pernah kudengar kisahnya dari mereka, para penghuni Mipa4.


 Saat kau berada di kelas itu, kurasa kau tidak akan menemukan para Ababil  yang menutup  diri dari keseruan anak-anak lainnya di pojokan kelas atau pun bermain ponsel sendirian. Ya...aku pastikan begitu untuk kalimat terakhirku tadi, karena seingatku pada masanya dulu, kami semua masih "tak bernyali" untuk melanggar aturan sekolah yang hqq. Kami semua berbaur. Pengalaman berharga pertama di masa putih abu-abu yang tidak mungkin lagi kau temukan di lain waktu. Bercanda tanpa takut tersindir, "bermain" tanpa memikirkan waktu, bertemu tanpa harus merasa bosan ataupun muak karena melihat orang-orang dengan kepribadian dan cara berfikir yang berbeda pula setiap harinya selama hampir 9 jam selama 3 tahun berturut-turut. Berkutat dengan pelajaran yang tidak kau sukai, bertemu orang-orang yang memotivasi diri maupun membangkitkan semangat.


  Satu-satunya pengingat di masa muda itu adalah suara teriakan yang menggema dari dalam kelas Mipa4 -duduk melemas di bangku ataupun mondar-mandir -sambil berteriak pr belum kelar, ga ngerti materi ulangan, males di terangin karena ga paham-paham, minta contekan woii, bodo amat.


 Di kepalaku, masih teringat jelas saat dulu kita semua di pertemukan dan disatukan di kelas Mipa4 saat kita masih belum saling mengenal satu sama lain. Dulu, di awal kita masuk kelas X Mipa4 kita harus menghafal nama maupun asal sekolah masing-masing orang. Saat sudah mulai terbiasa, lalu kita bercerita tentang masa SMP masing-masing. Kadang juga sering denger mereka yang mengatakan "tak kiro kue karo si B sak deso eg, tak kiro kue karo si B sak SMP dan blablablablaa..."  dan masih banyak lagi sebeenarnya. Oh ya...aku juga ingat dulu kita masih malu-malu dalam berteman. Untuk sekedar tertawa saja butuh di komando. Maksudku, dulu kalau tidak ada yang berucap sepatah kata pasti suasana kelas X Mipa4 akan sepi dan canggung  tapi jika ada seorang yang  berbicara agak keras semua anak langsung tertawa. Dan itu semua berakhir setelah dari kita semua sudah agak saling tahu dan kenal. Masih ingat ga sih kalian? Atau sudah lupa? Aku harap kalian masih ingat. Karena sayang sekali bukan, jika kenangan awal masa muda itu terlupakan begitu saja karena perubahan era?


 Masih terbayang juga, saat aku dan beberapa temanku mendapat hukuman dari Bu Rumanis- guru fisika. Gara-gara saat jam pelajaran beliau dimulai, aku dan beberapa teman yang lain masih bersantai diatas MMT kelas yang sengaja digelar di lapangan belakang kelas X Mipa4 dulu, dulu juga seringkali kelas kami di puji beberapa guru di kelas lain entah karena apa yg spesial dr kelas kami. Sering teringat juga sampai sekarang tentang bagaiman Bu. Asa mengajar kami di kelas. Tiap kali beliau menjelaskan materi matematika wajib maupun peminatan pasti selalu ada selingan waktu untuk Bu. Asa bernostalgia dengan masa lalunya lalu mencerikan kepada kami, dan kita pun sampai bosan mendengarnya. Tapi, bagaimanapun kisahnya tetap akan menjadi hal yang dirindukan bukan?

Oh ya, aku juga ingat. Dulu, waktu masih kelas X aku dan Yasinta hobi sekali telat lalu kena hukum pak Wahyu. Pernah juga aku dan mbah lik di hukum pak Wahyu untuk membawa daun kelor 1 plastik hitam juga karena telat. Dan seingatku selama aku sekolah 3 tahun di SMA N 1 GODONG aku sudah mengoleksi kurang lebih 35 point dan alasannya pun sama karena TELAT. Kalau ingat itu suka nyengir. Dan semenjak kelas XI & XII aku jarang telat tapi sering masuk kesiangan dan untungnya tidak sampai kena incaran pak Wahyu.

 Aku juga ingat, tiap kali Bu Rika memberi tugas kelompok prakarya, kami sekelas yang telah terbagi beberapa kelompok akan suka rela bertahan di kelas saat jam pelajaran telah usai untuk mengerjakan tugas bersama. Semua terasa begitu indah jika mengingatnya, tapi juga ada sedikit rasa sedih karena semua akan berakhir.  Bukankah ini terlalu cepat?


 Di kelas Mipa4, kami tumbuh. Belajar saling memahami satu sama lain, saling menyayangi dan menghargai.

 Di kelas Mipa4, ada ribuan suara berbaur, suara tawa yang tak tahu malu yang kadang gemanya bisa terdengar di kelas lain dan hal itu membuat guru yang terganggu mendengar itu menegur kami.
 Di kelas Mipa4, aku bisa merasakan kekompakan, kekeluargaan, kesolid-an, dan pembentukan karakter individu. Di kelas Mipa4, aku mendapat banyak pelajaran. Tentang bagaimana kita saling melengkapi kekurangan, mengingatkan jika salah satu dari kami melakukan kesalahan, berbagi jawaban, berbagi keluh kesah, berbagi makanan maupun minuman tanpa harus membalik sedotan,  selalu mendiskusikan hal apapun secara kekeluargaan, menyelesaikan masalah, mendengarkan keluh kesah mulai dr masalah keluarga, percintaan dan apapun itu.  Masih teringat jelas saat kelas XI yang lalu. Kita merangkai kenangan, di pulau Dewata. Ada rasa kurang puas yang kita rasakan karena kita kesana tidak dengan ke-40 anak. Beberapa tidak ikut. Banyak banget keseruan yang kita alami dan sedikitnya ada 7%  sedihnya pula, tapi tidak apa itu adalah bagian dari kenangan.
 Di kelas Mipa4, kami saling berbagi dan mengerti apa itu mimpi. Kemudian, seperti halnya anak kecil yang suka menghayal tanpa batas. Kita bebas berekspresi. Kita mulai bercerita tentang ekspektasi maupun imajinasi yang ingin diraih di masa depan.  Ya...itulah yang kami semua lakukan.  Semua itu mengalir dari dalam diri secara natural, berjanji satu sama lain kalau kami akan sukses karena mimpi kita yang tak terbatas.

 Ini kisah tidak melulu tentang bahagia, di kelas Mipa4 kami juga terkadang suka berselisih paham hanya karena masalah sepele. Lalu pada jam berikutnya kami sudah lupa, tertawa lagi melumer dengan suasana penuh keceriaan.


 Sama seperti yang dikatakan Kak Erisca, kenangan itu menenangkan, tetapi juga menyedihkan. Seiringnya waktu, kami semua semakin tumbuh. Kita bukan lagi Ababil yang baru merasakan buih-buih cinta atau ber alay-alay ria. Kita pun perlahan tumbuh menjadi manusia dewasa yang tampan dan cantik walau terkadang masih bertingkah laku layaknya balita.

 Intensitas "bermain" kami pun perlahan berkurang.

 Selama 3 tahun bersama kita pasti akan berada di fase yang paling berat. Seperti pepatah, dimana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Begitu pula lirik lagu yang disampaikan Endank Soekamti,


  Datang akan pergi

  Lewat kan berlalu
  Ada kan tiada
  Bertemu akan berpisah
  Awal kan berakhir
  Terbit kan tenggelam
  Pasang akan surut
  Bertemu akan berpisah
  Sampai jumpa di lain hari
  Untuk kita bertemu lagi
  Kurelakan dirimu pergi
  Meski pun,
  Ku tak siap untuk merindu
  Ku tak siap tanpa dirimu
  Ku harap terbaik untukmu

Seperti itulah rotasi kehidupan didunia ini. Semua tidak ada yang abadi. Sama halnya saat kita semua dipertemukan di kelas yang sama, pasti juga akan berpisah. Hey... ini sudah takdir. Suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas, rela tidak rela kau harus menerima takdir itu. Karena sesungguhnya Allah itu memberi hambanya apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan. Dan bukankah kita juga harus menitih masa depan? Tidak melulu kita harus sekolah, berkutat dengan hal-hal yang berbau anak sekolah. Tidak melulu kita berinteraksi hanya dengan teman sekelas. Kita ini makhluk sosial. Tidak lupa kan?


 Baik. Akan ku ulangi lagi. Di sini, di kelas Mipa4 kami semua di pertemukan lalu dipisahkan.


Beberapa bulan lagi, kita tidak akan lagi dihadapkan dengan tugas yang berderet. Pr yang menanti untuk di mintakan contekan dr temen yang mau berbagi jawaban. Serta pengumuman ulangan yang membuat tingkat ke-setressan meningkat.


Ga ada lagi omelan dr emak bapak gara-gara ketahuan sudah jam 7 kurang 5 menit masih di depan cermin.


Ga ada lagi notif WA gc kelas yang sampai 1 ribu sekian chat, karena grup kelas bakal kehilangan riuhnya penghuni gc yang lagi nanyain tugas, pr, pengumuman, minta send pict jawaban, dan ga ada lagi obrolan unfaedah di pagi hari yg isinya rata-rata pada nulis "belom mandi lah, baru bangun tidur lah, Pr hari ini banyak banget kamprett, aku mager masa, minta tlg dibuatin surat izin lah, masih jam 6 lah, gaya gravitasi kasur lebih kuat lah, aku males mangkat lah, awas ono cegatan lah dan blablablabla..."

Suka sedih, karena berarti masing-masing kita ga bakal bisa liat lagi ketidak tenangan temen-temen Mipa4 gara-gara belum selesai nugas and then di pagi hari sebelum jam 07.15  kelas mendadak  jadi rame  krn penghuninya rata-rata sudah mondar mandir dari bangku satu ke bangku lain buat bisa nyontek jawaban tugas ataupun pr.

Suka sedih karena berarti ga ada lagi bundahara yg kzl karena secara tiba-tiba para penghuni grup kelas ngilang scr misterius gara-gara bundahara narikin uang kas, nagih uang potocopyan dan blablablaaa


Suka sedih karena berarti masing-masing dari kita,  gak bakal bisa liat temen-temen Mipa4 yg lagi nguap lebar, tiduran di atas meja, gambar rumah maupun pegunungan di buku, coret-coret kertas, mainin pulpen, main hp, nyanyi dan ngobrol saat mapel kimia dan fisika berlangsung.


Suka sedih karena berarti masing-masing dari kita,  gak bakal bisa ketawa kenceng karena ngeliat temen-temen yang lain lagi bercanda maupun mengganggu satu sama lain di kelas.


Suka sedih karena berarti di jam set. 10 an ga ada lagi yang teriak-teriak "woi kantin gak cuy? Prei gak? Sholat duha yok" .


Suka sedih karena ga ada lagi kebisingan suara temen-temen  di kelas yg ramenya masyaallah rasanya pengen ngelus dada sumpah -_-.


Suka sedih karena ga ada lagi si ketua yang suka gulung kabel maupun nyalain son, buat bisa dangdutan.


Suka sedih karena ga bisa lihat temen-temen Mipa4  yg lagi nata kursi buat dijadiim tempat tidur.


Suka sedih karena berarti kita gak bakal liat mereka yang lg gitaran, nyanyi, diem di tempat dan blablabla... di kelas.


Suka sedih karena berarti ga bakal ada lagi yg ngumpul trus ngeghibah di kelas.


Suka sedih karena berarti ga bakal lagi bisa denger Ika ataupun yang lainnya cerita tentang tetangganya ataupun masalah PK yang lagi berantem karena kurang orderan


Suka sedih karena berarti ga bakal lagi bisa denger Rahayu yang cerita ttg masalalunya dengan Damar-mantannya di kelas.


Suka sedih karena berarti ga bakal lagi denger maupun lihat Epi, Ika yang lagi ngeganggu Riski di kelas.


Suka sedih karena berarti ga bakal lagi bisa lihat maupun denger Sindu Alay ngucap "dugo.., sopo? Seng takon. "

Suka sedih karena berarti ga bakal lagi liat Adi yang suka banget bersihin muka, ngaca, maupun pakai minyak dan handbody di kelas.

Suka sedih karena berarti ga bakal lagi lihat maupun denger keseruan dan tingkah absurd anak Mipa4.


Suka sedih krn berarti kita ga bisa lagi ngomongin kelakuan lucu sebagian guru. Haha. Termasuk ngomongin model rambut cikgu yg berantakan kalo lagi neranginπŸ˜‚ maupun ngebahas pak Wid yang suka "ngujukke katok" kalo lagi nerangin.


Suka sedih krn berrti  ga bisa heboh cerita ttg ini itunya timnas di kelas.


Suka  sedih karena berarti ga ada lagi yg mau denger aku maupun Belia  yang  ngaku-ngaku pacarnya Saghara maupun mantannya Hansamu Yama.


Suka sedih karena berarti  gak bakal

bisa lagi bahas hal-hal yg ga penting, ga jelas, gila, konyol, berimajinasi bareng mereka-mereka di kelas.

Suka sedih karena berarti ga ada lagi  temen-temen Mipa4 yg teriak histeris karena keilangan pulpen dan tipe x yg baru dibeli.


Suka sedih karena berarti ga ada lagi guru bawel yg nagihin tugas.


Suka sedih karena berarti ga ada lagi ulangan harian yg menyusahkan.


Suka sedih karena berarti ga ada lagi yang berbisnis dalem kelas.


Suka sedih karena berarti ga ada lagi yang ngrengek minta reunian pindah bangku.


Suka sedih karena berarti ga bakal lagi lihat Laksono yang lagi niru gaya Young lex maupun nyanyi sepatah lirik lagunya Young Lex.


Suka sedih karena berarti ga ada lagi yang mindahin meja kursi ke tempat yg sesuai nomer undi masing-masing.


Suka sedih karena berarti udah ga bisa lagi denger temen-temen teriak manggil gue "kamed,  kemed, gendut, nici, atul, kampret." 

Suka sedih karena berarti udah ga ada lagi yang teriak manggil Laksono "young laks, pak wakil"

Suka sedih karena berarti udah ga ada lagi yang teriak manggil Andrian "raja, imuut, suneo, tuwo, uzumakii, emeshh." 

Suka sedih karena berarti udah ga bakal denger lagi Laksono teriak manggil Adi "gadis" .
Suka sedih karena berarti udah ga ada lagi yang teriak manggil Hana Fajar  "mbah lik" 

Suka sedih karena berarti udah ga ada lagi yang teriak manggil Intan  "Galoon, mbak galak"


Suka sedih karena berarti udah ga ada lagi yang teriak manggil Elsa "mbak eng"


Suka sedih karena berarti udah ga ada lagi yang teriak manggil Isna "isen, bundahara


Suka sedih karena berarti udah ga ada lagi yang teriak manggil Khusnil  "obett"


Suka sedih karena berarti  ga ada lagi yang teriak-teriak manggil Sindu  "Alay"


Suka sedih karena berarti ga ada lagi yang teriak-teriak manggil Akhed  "Mas jembeng"


Suka sedih karena berarti ga ada lagi yang teriak-teriak manggil Riski " Mas Pongki"


Suka sedih karena berarti ga ada lagi yang teriak manggil yasinta " yem, yuk Sri"


 Suka sedih karena berarti ga ada lagi yg rela lari dr depan pintu kelas hanya buat teriak "Woi ono pak wawan woii"  yang ujung-ujungnya cuma tipuan yg bertujuan menakut-nakuti kita-kita  yg lg rame di dalem kelas dan yg paling ngeselin setiap ada anak yg nyebar hoax kek gitu pasti semuanya percaya trus pada duduk anteng dan nanya "Pak wawan nek ndi re?" Dan si penebar hoax bakal bilang "kui pak wawan!" Sambil nunjuk photo pak wawan yg terpampang di MMT kelas.


Suka sedih karena berarti ga bakal bisa kezel lagi sama Isna, Belia, Rahayu, Cicha, Yasinta, Yani yg seneng banget ngatain aku gara-gara aku orangnya  doyan kentut dikelas dan ga punya rasa "ewoh ".


Suka sedih karena berarti  ga bakal bisa lagi ketawa liat temen yg lagi suntuk karena mapel yg ngebosenin trs pake acara izin mau ke WC padal ke kantin. Dan biasanya para pelakunya itu, si Akhed, Riski, Alay, Resa.


Banyak hal yg kita lalui tidak dengan cuma-cuma.


Karena terkadang, satu hal kecil dan sepele adalah sesuatu yang akan paling dirindukan jika seseorang telah merasakan yang namanya kehilangan. Dan, kehilangan itu pasti. Kita hanya bisa berusaha, berdoa dan memohon untuk bisa di bersamakan lagi. Perihal di kabulkan atau tidaknya, itu urusan Tuhan.


Di masa yang akan datang, ummm...gini aja aku ibaratin di liburan semester 5 ini,


Dirumah 1 minggu berdiam diri di rumah bakal ngrasain bermacam-macam varian.


Untuk di 2 hari nya aku yakini semua anak sekolahan khususnya, bakal nikmatin waktu bersantai dirumah tanpa hrs mikirin tugas, pr, mtk, kimia, fisika, ulangan, Pak wawan, guru galak, cogan, dan blablablablaaabla...


Di hari ke 4 sudah mulai suntuk, jenuh, mager, kzl dan pasti sering buat status "Ra sekolah ra intok sangu, kamprett"


Di hari ke 6 pasti udah ngerasa kangen suasana kelas. Aku tegesin lagi ya, Kangen suasana kelas! Bukan rutinitas di kelas.


Dan entahlah, semakin mendekati perpisahan aku malah merasakan perubahan.  Yang kurasa mereka lebih mementingkan ego masing-masing. Ya...aku tahu, saat ini memang bukan lagi waktunya kita "bermain-main ". Setelah perpisahan nanti, masing-masing dari kita akan menitih masa depan. Yang kurasa, saat ini ke-solid an tak lagi di utamakan. Ya... lagi-lagi aku tahu, ini memang bukan saatnya lagi tiap individu memikirkan kehidupan ataupun urusan orang lain, sekalipun temen sekelas. Karena aku tahu, setelah resmi berpisah kita akan berpencar memikirkan hidup individual untuk mengharumkan nama keluarga maupun mengangkat harga diri. Saat ini, kami semua benar-benar memikirkan itu. Tapi, apakah salah kalau kita tetap mengutamakan kepedulian, ke-solid an maupun kekeluargaan? Bukankah kita masih berada di dalam lingkup ruang kelas yang sama? Kita masih berada di kelas Mipa4 bukan? Kita masih saling menganggap satu sama lain seperti keluarga sendiri bukan? Ya harusnya memang seperti itu walaupun nantinya kita akan pisah. Jadi, kenapa harus menutup rasa kesal terhadap kita? Bukankah aku pernah menulis di baris awal bahwa kita menyelesaikan masalah secara keluarga. Ataukah itu hanya pada masanya dulu? Ataukah sekarang sudah tak lagi berlaku di kelas XII ini?


Kadang suka badmood kalau merasakan detail perubahan yang terjadi saat ini. Suka nangis saat keinget kita bakal pisah.


 Ya...lagi-lagi aku paham. Perubahan itu mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih dewasa.

"Terkadang, saat memutuskan suatu hal kita harus berlapang dada untuk memulai perubahan. Berbesar hati untuk menerima perubahan. Dan bersikap dewasa untuk menghadapi perubahan. "  

Kemarin , kamis, 20 Desember 2017 hatiku mulai terbuka kembali menerima kenyataan bahwa memang banyak perubahan yg terjadi, dan anehnya bukan hanya aku saja yang merasa. Kemarin, kelasku bersama kelas XI Ips3 harus berlapang dada menerima posisi runner up di classmeeting lomba Futsal Mardani Cup 2017. Disini, kami melihat perjuangan mereka untuk merebut gelar juara untuk ke-2 kalinya. Bukan masalah hadiah, ini masalah gengsi.

Jadi, saat kami tahu kelas kami gagal mempertahankan prestasi tahun kemarin, ada rasa kecewa, gemes, bangga, sedih dan iba melihat perjuangan mereka. Ya...aku tahu semua hal harus di perjuangkan, untuk mendapat hasil yang membanggakan. Sekalipun bukan hasil yang  memuaskan sesuai ekspektasi. Bukankah kita sebagai supporter hanya bisa memberikan kekuatan? Kami saling merangkul dan menangis memeluk satu sama lain, bahkan untuk sekedar mengucap kata "ga papa"  suara seperti terhambat. Namun, air mata sudah cukup menggambarkan.

Kurasa, ini adalah moment yang pasti akan di rindukan saat perpisahan telah tiba nanti. Ada seberkas rindu yang tak bisa di jelaskan.


 Sebuah harapan sudah di depan mata, cita-cita yang sering di ucapkan dan dibayangkan akan tergapai seiring berjalannya waktu. Kami semua semakin dewasa, dan mungkin yang akan datang.... kita semua tidak akan pernah tahu apakah " orang-orang di Mipa4 ini masih sama, ataukah sudah berubah. Semakin di rindukan, ataukah semakin di lupakan. "

 Bahkan, aku belum sempat mengucapkan terima kasih maupun maaf kepada mereka semua yang telah mewarnai masa mudaku di putih abu-abu. Mungkin ini saat nya kutuliskan disini. Ya...aku tahu kesannya aku tak punya nyali untuk mengatakan langsung. Ya..memang nyatanya begitu.

 Dan aku, Nissi entah apapum panggilan kalian untukku, aku ingin meminta maaf kepada kalian yang memang pernah menjadi korban ucapanku yg tidak senonoh ataupun ucapan maupun perbuatan yang menyinggung perasaan kalian. Aku juga minta maaf kepada kalian, yg tanpa jelas aku diamkan. Aku memang egois. Tak punya malu. Sok-sokan? Entahlah, aku tak peduli apa tanggapan kalian tentang aku. Maaf untuk tanpa kejelasan aku memarahi kalian selama berbulan-bulan. Sungguh aku menyesal, ini semua karena keegoisanku dan emosi yang sering labil. Bahkan aku yakin kalian juga tahu aku ini bagaimana bukan? Iya, aku seringkali badmood karena berbagai alasan yg mungkin tak bisa difikir secara logis. Ini menyangkut masalah hati dan perasaan. Bahkan aku juga sering gagal memahami kenapa aku sering badmood. Pokokknya aku minta maaf kepada kalian teman-teman ku di Mipa4. Tak lupa, aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Karena kalian, aku dengan bangga bisa mengatakan masa muda ku sangatlah di luar ekspektasi, bahkan sangat beruntung berteman dan mengenal  kalian. Terima kasih sudah mau menjadi temanku 3 tahun ini. Terima kasih sudah sudi memahami cara berfikirku. Terima kasih sudah mau mendukung hobbi ku. Terima kasih kalian telah menerima ku di tengah-tengah kalian. Terima kasih kalian sudah mengajarkanku pentingnya kebersamaan. Terima kasih  karena kalianlah yang mampu meluruhkan rasa sakit ku di masalalu krn pembullyan yang pernah kualami.  Terima kasih Sains Four Crew. Kalian istimewa. Terbaik. Dan...boleh aku bilang, kalian ini Relationship Class goal? Akan ku pastikan, kalian yang akan selalu kurindukan. Bukan yang kulupakan.


Salam hangat, 😘

 
 
 
Tertulis, 22/12/2017 Pukul 21.34 WIB



Biarkan ku bercerita,